"Guys, besok anterin ke Mall di Jakpus yaa, ada Sale besar-besaran tauuuu, mau lihat-lihat doang siiih"
"ih kok lucuuu, cobain ah.. Hmmm, beli jangan ya? kalau gak beli takut kepikiran, tar malah udah kebeli orang lain"
"woww skincare favoritku ada promo beli 2 dapat 3, harus beliiiiiiii"
***
Hayo ngakuuuu, siapa yang relate dengan random thoughts di atas? kamuuu.. atau kalian semua nih yang baca juga? wkwkwk.. toss duluuuu!
Iyaa, aku pun kadang gitu kok. Hal yang kayaknya tuh sudah "lumrah" di keseharian, padahal ternyata bisa jadi pengantar awal "kapal" kehidupan kita goyang dan bahkan bisa "karam" kalau gak mulai dibenahi. Ya gimana gak karam, kalau kitanya masih suka jadi impulsive buyer, alias jadi tukang belanja tanpa memikirkan efek jangka panjang terhadap kondisi keuangan kita sendiri.
Tapi ya, bicara mengenai belanja yang impusif, ternyata bisa terjadi karena banyak faktor. Jadi, sebaiknya kita tidak asal judge orang lain juga akan hal itu, karena kita belum tentu mengerti faktor internal yang terjadi di kehidupan orang lain. Yang harus diutamakan justru adalah diri kita sendiri dulu. Sudah sejauh apa kita "melek" keuangan?
Female Digest Mengajak Sobat Female untuk Melek Keuangan dan Belajar dari Pakarnya
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Female Digest menggelar acara inspiratif bertajuk “Kartini Modern Melek Finansial: Literasi Tinggi Risiko Rendah” pada sore hari kemarin secara online melalui Google Meet. Mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan perempuan masa kini, acara ini menjadi ruang belajar sekaligus refleksi bahwa emansipasi perempuan di era modern tidak hanya soal pendidikan, karier, dan kebebasan berpendapat, tetapi juga tentang kemampuan mengelola keuangan secara bijak.
Acara ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidang keuangan dan memberikan banyak insight praktis mengenai bagaimana perempuan bisa memiliki kontrol lebih besar atas masa depan melalui literasi finansial, yaitu Dedek Gunawan (Financial Planner & Founder Perempuan Bantu Perempuan) dan Diana Anggraini (Dosen LSPR). Dimoderatori oleh Ruth Ninajanty dari Female Digest.
Acara yang awalnya dijadwalkan sekitar 2 jam (pukul 16.00 WIB - 17.30 WIB), berjalan sangat seru dan benar-benar bikin "melek", hingga melebihi batas waktu yang ditentukan. Saking asiknya menyimak, dan juga berinteraksi. Bahasan mengenai "cuan" memang selalu menarik yess, haha.
Mengapa Perempuan Harus Melek Finansial?
Salah satu pembahasan yang paling menarik dalam sesi ini adalah saat Mba Dedek menjelaskan alasan mengapa perempuan perlu memiliki pemahaman finansial yang kuat sejak dini. Beberapa diantaranya adalah karena, di dalam kehidupan nyata, perempuan sering dihadapkan pada kondisi finansial yang unik dan berbeda.
Biaya hidup perempuan sering kali lebih tinggi, mulai dari kebutuhan kesehatan, perawatan diri, hingga tanggung jawab keluarga. Di sisi lain, kenaikan penghasilan tidak selalu sejalan dengan laju inflasi yang terus meningkat.
Selain itu, perjalanan karier perempuan juga bisa bersifat dinamis. Ada fase ketika perempuan memilih berhenti bekerja sementara karena menikah, melahirkan, mengurus anak, atau merawat keluarga. Hal ini tentu berdampak pada penghasilan dan kestabilan keuangan.
Tidak sedikit pula perempuan yang memegang peran penting dalam mengatur keuangan rumah tangga. Karena itu, kemampuan mengelola uang bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi kebutuhan penting.
Mengelola Keuangan Sesuai Tahap Kehidupan
Kami semua juga diajak memahami bahwa kebutuhan finansial akan berubah seiring bertambahnya usia dan perubahan fase hidup.
1. Awal Karier
Saat baru mulai bekerja, fokus utama biasanya adalah membangun mindset keuangan yang sehat. Ini menjadi waktu terbaik untuk belajar menyusun anggaran, mulai menabung, dan menghindari gaya hidup konsumtif.
2. Fase Bertumbuh
Ketika karier mulai meningkat dan kehidupan pribadi berkembang, misalnya menikah atau mulai berkeluarga, kebutuhan pun bertambah. Di tahap ini, penting mulai memiliki proteksi keuangan, tabungan jangka menengah, dan tujuan keuangan yang lebih jelas.
3. Puncak Karier
Saat penghasilan sudah lebih mapan, tantangannya justru semakin besar. Kebutuhan meningkat, tanggung jawab bertambah, dan dibutuhkan strategi keuangan yang lebih matang. Investasi dan pengelolaan aset mulai menjadi hal penting.
4. Persiapan Pensiun
Masa pensiun bukan sesuatu yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Justru semakin cepat direncanakan, semakin baik hasilnya. Menyiapkan dana pensiun memberi rasa aman dan kebebasan finansial di masa depan.
5. Menikmati Masa Pensiun
Tujuan akhir dari perencanaan keuangan tentu bukan sekadar mengumpulkan uang, tetapi menikmati hidup dengan tenang, nyaman, dan tetap mandiri.
Budgeting yang sehat adalah bisa membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu metode sederhana yang dibahas adalah membagi pengeluaran ke dalam beberapa kategori, yaitu:
- Needs: kebutuhan utama seperti makan, transportasi, tagihan, pendidikan, dan tempat tinggal.
- Wants: keinginan atau gaya hidup, seperti nongkrong, belanja hiburan, atau barang yang sebenarnya tidak mendesak.
- Charity: alokasi untuk berbagi dan membantu sesama.
- Investment: dana yang ditujukan untuk masa depan dan pertumbuhan aset.
Dengan memahami prioritas ini, perempuan dapat mengelola pemasukan secara lebih seimbang dan terarah. Sayangnya kemarin metode ini kurang panjang dijelaskan karena keterbatasan waktu. Tapi dari ringkasan yang ada di slide-nya, kurang lebih dapat dipahami ya garis besarnya.
Tentang Investasi
Saat memutuskan untuk berinvestasi, harus perhatikan juga beberapa hal berikut:
- Invest di asset yang dapat menghasilkan pendapatan
- Sisihkan minimal 10% dari pendapatan untuk Investasi
- Jangan dulu berinvestasi selama masih ada utang konsumtif, atau kalau gak ada dana darurat
- Jangan terburu-buru dalam berinvestasi, mulailah dari yang beginner friendly, jangan dulu terjun ke yang "berat" seperti kripto, dan lainnya.
Dana Darurat Itu Wajib
Tidak ada yang bisa memprediksi hidup sepenuhnya. Karena itu, dana darurat menjadi fondasi penting dalam keuangan pribadi. Dana darurat berfungsi sebagai pelindung saat terjadi kondisi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan mendadak, kerusakan rumah, atau situasi darurat lainnya. Tanpa dana darurat, seseorang berisiko mengambil utang saat sedang berada dalam kondisi sulit. Mulai dari nominal kecil pun tidak masalah. Yang terpenting adalah konsistensi membangunnya sedikit demi sedikit.
“You are the driver of your life. Choose your hard.”
Kalimat yang dari pertama kubaca, langsung "tertanam" di kepala.
Yess, hidup memang memiliki tantangan masing-masing. Menabung itu sulit, disiplin juga sulit, menolak godaan belanja pun sulit, semuanya tidak mudah. Tetapi kesulitan karena tidak punya perencanaan keuangan juga sama beratnya. Jadi pilihan ada di kita sendiri, mau pilih "sulit" yang mana.
Kita bisa memilih tantangan yang membawa manfaat jangka panjang. Perempuan modern bukan hanya mereka yang aktif, produktif, dan mandiri, tetapi juga mereka yang sadar bahwa uang adalah alat untuk menciptakan pilihan hidup yang lebih baik. Perempuan modern adalah pengambil kendali.
Impulsif Bisa Karena Banyak Hal
Seperti yang ditulis di atas, saat ada yang belanja impusif, sebaiknya kita jangan judge, melainkan bisa dijadikan bahan perenungan kita sendiri. Menurut Mba Diana atau yang biasa dipanggil Mba Di, impulse buying itu bisa karena banyak hal. Setiap orang punya alasannya sendiri saat dia belanja tanpa berpikir panjang dampak kedepannya. Seperti karena sedang melampiaskan stres, sedih, atau frustrasi. Yang berarti itu merupakan dorongan emosional atau berhubungan dengan faktor psikis, yang setiap individu bisa berbeda kemampuan mengendalikannya.
Namun, ada beberapa hal lain juga yang menjadi alasan, misalnya:
- Scroll media sosial atau marketplace
- Melihat barang lucu atau menarik
- Tergoda diskon dan flash sale
- Merasa takut ketinggalan promo (FOMO)
- Checkout cepat tanpa berpikir panjang
- Menghilangkan rasa bosan
Menariknya, narasumber menjelaskan bahwa sering kali bukan kita yang lemah, tetapi sistem digital memang dirancang untuk menarik perhatian dan mendorong transaksi. Notifikasi berwarna mencolok, countdown timer flash sale, hingga algoritma yang menampilkan barang sesuai minat kita adalah bagian dari strategi yang membuat pengguna bertahan lebih lama dan berbelanja lebih banyak.
Karena itu, penting untuk lebih sadar sebelum membeli sesuatu. Tanyakan kembali, Apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan sesaat?
Banyak juga yang beralasan impulse buying karena mengalami burnout seperti working burnout, parenting burnout, dll. Namun, menurut Mba Di, kita perlu memahami bahwa burnout dapat terjadi bukan karena kerja keras semata, namun karena tidak pernah berhenti, atau jeda. Karena itu perlu sekali untuk kita meluangkan waktu 1 - 2 jam untuk off dulu, tanpa rasa bersalah.
Ingat Ini Sebelum Impulse Buying
Female Digest Hadirkan Ruang Belajar yang Relevan
Gimanaaaa, setelah baca tulisan ini, kebayang gak serunya cara kemarin? Buatku ini sangat seru dan jadi pencerahan ulang. Hal yang sebelumnya sudah diketahui, kadang perlu ada sesi untuk mengingatkan kembali, terutama dalam hal mengelola finansial. Melalui acara “Kartini Modern Melek Finansial”, Female Digest kembali menghadirkan ruang diskusi yang relevan, dekat dengan kehidupan perempuan, dan memberi dampak nyata.
Karena semangat Kartini saat ini bisa diwujudkan dalam banyak bentuk. Salah satunya adalah dengan berani belajar, mengambil keputusan finansial dengan bijak, dan membangun masa depan yang lebih aman. Karena ketika perempuan melek finansial, bukan hanya dirinya yang bertumbuh, tetapi juga keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Semangat Kartini, Para Perempuan Hebat di manapun berada. Terima kasih untuk selalu meluangkan waktu mengosongkan "gelas", dan kembali berlajar di forum yang luar biasa, untuk senantiasa berdaya dengan meningkatkan literasi.









