Hidup Akhir-Akhir Ini: Juli 2026
Friday, July 31, 2026Kalau ada satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan hidupku akhir-akhir ini, mungkin jawabannya adalah adaptasi. Juli 2026 ini rasanya seperti satu bulan penuh dengan kalimat, “Oke… sekarang gimana caranya supaya semua ini bisa jalan?”
Bukan karena ada satu kejadian besar yang mengubah hidup secara dramatis. Justru sebaliknya. Banyak hal kecil yang datangnya bersamaan, lalu pelan-pelan membuatku sadar bahwa hidupku ini memang sedang berada di fase yang berbeda. Salah satunya adalah soal tempat tinggal.
Hello, apartment life!
Something I never really imagined before.
Setelah sekian lama tinggal di rumah, pindah ke apartemen ternyata bukan cuma perkara memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Ya walau sampai saat ini masih bolak-balik rumah. Ada banyak hal kecil yang harus dipelajari lagi. Mulai dari menghafal akses masuk, lift, parkiran, letak minimarket, tempat laundry, tempat makan, sampai belajar membawa semua barang tanpa lupa access card.
Mengingat-ingat jalan ke kolam renang, lapangan tenis, dan lainnya. Belum lagi penyesuaian diri semenjak di apart itu rasanya seperti tinggal di Drakor, atau universe yang berbeda. Masuk gerbang utama apart udah berasa masuk dunia yang berbeda dengan dunia yang di luar gerbang.
Dan yang paling terasa nyata adalah, hidup di apartemen juga punya biaya hidup yang berbeda. Ada biaya yang dulu terasa "sepele", tapi sekarang kalau dikumpulkan satu per satu… ya ampun, ternyata lumayan juga. HAHA (dalam tertawa ku meringis. LOL)
Makan, transportasi, parkir, delivery, segala macam convenience yang kelihatannya kecil, tapi kalau terjadi hampir setiap hari, akhirnya menjadi angka yang nyata. Jadi kalau ada yang bilang, “Enak dong tinggal di apartemen, lebih praktis.”
Yes.
Praktis.
Praktis yang ada tarifnya! :))
Aku masih belajar menyesuaikan semuanya. Termasuk menyesuaikan ekspektasi terhadap pengeluaran, ritme hidup, sampai definisi “hemat” yang ternyata bisa berubah ketika lingkungan hidup berubah. Tapi di tengah semua itu, aku mencoba untuk tidak terlalu banyak mengeluh. Karena, bukankah ini juga bagian dari hidup yang sedang kupilih?
Jadi ya… nikmati aja dulu momennya.
Karena dibalik semua penyesuaian yang kadang bikin heart rate meninggi, banyak kemudahan dan penghematan waktu yang signifikan dirasakan. Jadi worth to try.
Hidup Yang Mulai Bergerak Lebih Cepat
Setelah cukup lama menjalani hidup dengan ritme yang relatif tenang, beberapa bulan terakhir juga terasa seperti tombol play yang kembali ditekan. Mobilitasku menjadi lebih tinggi, semakin banyak urusan di luar rumah. Untuk bekerja, bertemu banyak orang yang akhirnya menjalani berbagai proyek bareng, hingga aku harus membagi energi ke banyak hal dalam waktu yang bersamaan.
Jujur saja, tubuhku sempat protes.
Kaki yang pegal lah, badan cepat capek lah, rasanya seperti baru saja naik level dari kehidupan yang terlalu banyak duduk depan laptop, menjadi kehidupan yang banyak jalannya.
Lucu juga. Semesta seolah menyuruhku untuk banyakin olahraga juga sepertinya, hmm.. menarik.
Beberapa tahun ke belakang, aku bekerja dengan ritme yang lebih santai, karena ingin menikmati keleluasaan waktu bersama anak. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku jadwalkan sebelumnya. Dan sebisa mungkin aku "menolak" atau menunda pekerjaan yang terlalu banyak menyita waktu family time-ku. Aku memilih ruang kerja yang lebih sepi, perkantoran yang lebih tinggi, dan pertemanan yang lebih berkualitas dan terbatas.
Sekarang ketika hidup mulai ramai lagi, aku malah berpikir, “Boleh nggak sih hidupnya jangan seramai ini?” haha. Tapi mungkin memang begitu siklusnya ya, ada masa ketika kita ingin hidup lebih tenang, ada masa ketika kita ingin kembali sibuk. Dan, ada masa ketika kita akhirnya mendapatkan keduanya secara bersamaan. Sibuk, tapi tetap ingin tenang.
Tentang Kerja dan Menjadi Perempuan Dewasa
Ada satu hal yang semakin terasa belakangan ini, aku semakin sadar bahwa pekerjaan bukan cuma soal “suka atau tidak suka”. Ada kebutuhan hidup di dalamnya, ada anak-anak, ada pendidikan mereka, ada rumah, ada kebutuhan sehari-hari, ada masa depan. Dan pada akhirnya, ada keinginan sederhana untuk punya kehidupan yang layak dan nyaman.
Saat ini aku sudah berada di fase di mana aku tidak lagi bisa berpura-pura bahwa passion saja cukup untuk membayar semuanya. Memang, aku tetap ingin melakukan pekerjaan yang aku suka, tetap ingin berkarya, tetap ingin punya ruang untuk menulis, membuat konten, bekerja di media, dan melakukan hal-hal yang memang aku kuasai.
Tapi.. aku juga semakin realistis.
I have a life. I have kids. And life costs money.
Mungkin terdengar sangat pragmatis. Tapi bukankah menjadi dewasa memang salah satunya adalah belajar menerima bahwa idealisme dan realitas harus bisa duduk satu meja?
Aku masih ingin punya mimpi. Tapi sekarang aku juga ingin mimpi itu punya angka yang jelas. Anak-anak, rumah, dan hidup yang terus berjalan. Ya, di antara semua kesibukan itu, ada dua manusia kecil yang tetap menjadi pusat dari banyak keputusanku. Kadang aku melihat mereka dan berpikir, cepat sekali mereka besar. Sementara aku sendiri masih sering merasa sedang mencari tahu bagaimana caranya menjadi manusia dewasa yang benar.
Ternyata menjadi ibu tidak membuat kita otomatis punya semua jawaban. Kita tetap bingung, tetap capek, tetap takut salah, tetap punya hari-hari ketika ingin menghilang sebentar dari semua tanggung jawab. Tapi kemudian mereka memanggil, meminta sesuatu, bercerita tentang hal kecil, atau sekadar ada di sebelahku. Dan hidup kembali terasa punya alasan. Bagi Alf & Art, aku adalah pusat dunianya.
Mungkin motherhood memang seperti itu, yang tidak selalu romantis, tidak selalu Instagrammable. Kadang cuma soal memastikan mereka menjalani rutinitas hariannya dengan baik. But somehow, that’s life.
Juli Dalam Satu Kalimat
Kalau harus merangkum Juli, mungkin aku akan bilang, aku sedang belajar tinggal di kehidupan yang baru. Bukan cuma tempat tinggal baru. Tapi kehidupan baru, dengan ritme yang juga baru. Pekerjaan dan tanggung jawab yang terus bertambah. Tubuh yang ternyata punya batas, anak-anak yang semakin besar. Dan diriku sendiri yang juga terus berubah.
Bulan depan, aku percaya semua akan jauh lebih baik, lebih ringan, sekalipun akan tetap ada ketidaknyamanan-ketidaknyamanan itu. Tapi aku akan tetap berjalan, gak mau mundur sedikit pun. Aku mulai belajar bahwa hidup tidak harus selalu langsung terasa nyaman untuk bisa disebut baik.
Kadang kita memang perlu melewati fase “what am I doing with my life?” beberapa kali. Dan gapapa merasa capek, bahkan itu perlu. Termasuk, kita sesekali perlu untuk merasa tidak yakin. Hidup juga tidak selalu meminta kita untuk punya semua jawabannya.
Tugasku adalah terus berjalan, pelan-pelan, sambil terus belajar, terus beradaptasi, sesekali berhenti untuk melihat sekeliling dan berkata, “oh… ternyata aku sudah sejauh ini.”
Well..
Juli selesai. dan hidup.. masih terus berjalan.
KEEP GOING, HON!
Baca Juga: Hidup Akhir-Akhir ini (Juni)









0 komentar
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.